by

Survey IDE: Masyarakat Ingin Dr M Segera ‘Copot’ Jabatan

Kuala Lumpur – Darul Ehsan Institute (IDE) selaku lembaga pemikir pemerintah Selangor menemukan bahwa berdasarkan penelitian dengan jumlah 75 persen, 44 persen diantaranya mengatakan Dr Mahathir harus mengundurkan diri sebagai perdana menteri dalam waktu enam bulan dari sekarang.

“36 persen lainnya mengatakan Dr Mahathir seharusnya tidak memegang jabatan perdana menteri selama lebih dari dua tahun, sementara 20 persen menginginkannya untuk segera mengundurkan diri,” katannya ditulis Selasa (12/11).

“Sementara itu, hanya 22 persen responden mengatakan tidak perlu Dr Mahathir untuk mengundurkan diri sebagai perdana menteri,” tambahnya.

Untuk diketahui bahwa Dr Mahathir telah berjanji sebelum pemilihan umum tahun lalu bahwa ia akan menyerahkan perdana menteri kepada Presiden PKR Anwar Ibrahim dalam beberapa tahun.

Meskipun Dr Mahathir sebelumnya mengatakan bahwa dia akan melakukannya dalam dua tahun, selain berulang kali bersikeras untuk mengundurkan diri ke Anwar, waktu tepatnya dia masih memegang posisi perdana menteri masih belum jelas.

IDE juga bertanya kepada responden tentang kandidat yang seharusnya menggantikan Dr Mahathir, yang melihat Anwar menempati urutan teratas dengan 45 persen.

Presiden Bersatu Muhyiddin Yassin berada di posisi kedua dengan 16 persen sementara wakil presiden PKR Azmin Ali berada di posisi ketiga dengan 11 persen.

Sementara itu, satu persen responden menginginkan Presiden Percaya Mohamad Sabu untuk menggantikan Dr Mahathir.

Sisanya 27 persen untuk politisi lain seperti mantan perdana menteri Najib Razak dengan enam persen, Presiden PAS Abdul Hadi Awang tiga persen, wakil presiden Umno Mohamad tiga persen, dan sekretaris jenderal DAP Lim Guan Eng sebesar satu persen.

Tinjauan ini berlangsung selama tiga hari dari 28 hingga 30 Juni tahun ini. Sebanyak 1.597 responden dari 222 kursi parlemen di Malaysia diwawancarai.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed